Siapa yang tidak marah melihat tempat ibadah Saudara kita dibakar?
Siapa yang tidak sakit hati melihat barang berharga milik kita dirusak? Itulah
pertanyaan dan perasaan dari banyak murid Kristus akhir-akhir ini. Sedih dan marah.
Memang benar, ada banyak peristiwa yang memprihatinkan di negara
ini tentang kerukunan hidup umat beragama memadati pemberitaan media. Pendeta
ditusuk, gereja disegel, sekolahan dipaksa ditutup, bahkan ada pembakaran dan
pembunuhan. Mengatasnamakan agama lalu mengancam, menakut-nakuti, merusak
bahkan membunuh. Seperti hidup di tempat yang tidak ada peradaban dan tidak ada
perlindungan. Rasa-rasanya orang Kisten pantas membenci dan membalas.
Namun
ternyata tidak seperti itu yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Dalam kotbah di
bukit, Dia meruntuhkan pemahaman umum bahwa musuh harus dibenci, dan yang
menganiaya harus dibalas setimpal dengan perbuatannya. Perintah untuk mengasihi
tidak sebatas kepada orang yang baik dan mengasihi kita, tetapi kepada orang
yang membenci kitapun harus tetap mengasihi. Perintah untuk mendoakan tidak
hanya kepada orang yang menaruh kebaikan dan hormat kepada kita, tetapi bahkan
kepada orang yang menganiaya kita. Sungguh ajaran yang berbeda. Sungguh luar
biasa. “Berbahagialah orang yang
membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9). Karena itu, tetaplah
tenang.
SIL