Stefanus Iwan Listiyantoro: DIBALIK CARRY TERBALIK Metal Set - Link Select

6.05.2012

DIBALIK CARRY TERBALIK



S
eingatku, kami meninggalkan Wonosari dengan carry warna hijau tepat pukul setengah sebelas malam menuju Kecamatan Japah, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Majelis Gereja Kristen Jawa Japah mengundang kami untuk datang di acara penahbisan pendeta vicaris Sih Ell Mirmaningrum, dia teman lama di Sekolah Tinggi Agama Kristen Marturia Yogyakarta. GKJ Japah terletak di Kabupaten Blora, tepatnya jalan Japah-Todanan Km 1, Blora. Kami sengaja berangkat pada rabu malam supaya sampai ke tujuan pagi sehingga masih cukup waktu untuk mandi, sarapan, dan persiapan-persiapan yang lain mengikuti acara itu.
Carry hijau yang memuat delapan orang itu meluncur dari Wonosari ke arah Piyungan, sampai Prambanan, terus ke jurusan Klaten. Pak Sunar, yang kebetulan Koster  Gereja Kristen Jawa Paliyan, menyetir kendaraan dengan kecepatan kira-kira 60-70 Km/jam membawa Pak Bagyo, Bu Lina Bagyo, Pak Yusak, Bu Vica Yusak, Bu Ni Luh, Pak Kristiono, dan aku. Laju kendaraan termasuk pelan, melewati kota Surakarta ke arah Solo, karena perjalanan sengaja dibuat santai. Ya, perjalanannya santai.
Pukul satu pagi  rasa lapar mulai menggelitik membuat kami mampir di Rumah Makan Padang Murah Meriah di  jalan Solo arah Purwodadi. Tempat ini satu-satunya harapan kami untuk mengisi perut, maklum yang lain sudah tutup karena sudah dini hari. Menunya masih cukup komplit, ada ayam, rendang, ikan, dan tentu saja daun singkong plus sambal.
Setelah menyantap makanan khas padang  yang agak kasinen itu, kami melanjutkan perjalanan. Dinginnya malam itu kami hangatkan dengan ketawa-ketiwi, menyanyian lagu Panbers “Gereja Tua” yang melankolis walaupun syairnya banyak yang ‘dipelesetkan’. Perjalanannya sungguh mengasyikkan.
Kira-kira jam tiga pagi kami memasuki daerah Purwodadi, mulai terasa jalan yang berlobang, selain itu juga banyak jalan yang akan dicor.Tibalah kami  di daerah Blora kira-kira jam lima pagi. Kebingungan kami rasakan karena belum pernah satu pun yang mengenal arah jalan Japah-Todanan Km 1 yang menjadi tujuan kami. Ji-Pi-Es sebagai perangkat penunjuk jalan juga mulai kurang terbaca. “Aku siap takon lho!” celetukku, menawarkan diri jika harus turun dan menanyakan jalan mana yang harus dilewati, karena kebetulan aku duduk di dekat pintu belakang. “Ya, mengko..” suara teman-teman hampir bersamaan.
Di tengah keraguan memilih jalan, tepat di tengah bulak, kebetulan ada seorang nenek yang membawa tas berada di pinggir jalan. “Wis takon wae!” suara yang menyarankanku untuk segera bertanya. Aku turun dari mobil kemudian mendekati nenek itu. Belum sempat mengeluarkan suara, nenek itu tiba-tiba beranjak mau naik ke mobil, mungkin dikira kami akan memberi tumpangan. “Nuwun sewu mbah, badhe nyuwun pirso, menapa menika leres arah dateng Japah, jalan Todanan ?”, tanyaku antara bingung bercampur ngantuk. Simbah itu tanpa menjawab dan tetap menunjukkan langkah mau menumpang. Kuulangi pertanyaan tadi dengan lebih keras, barangkali bisa mempermudah nenek itu menangkap maksudku. Ternyata itu membuatnya mengurungkan langkah, diam di tempat. “Pasar Japah…”, ungkapnya lirih sambil menatapku dengan tatapan aneh. “Yee, gimana tho simbah ini…”, aku menjadi agak sewot karena nenek ini tidak jelas. Mungkin sudah berkurang pendengarannya atau barangkali tidak tahu daerah yang dimaksud. Karena tidak nyambung, aku spontan mengabaikannya, kemudian memberi kode kepada Pak Sunar untuk meneruskan perjalanan, meninggalkan simbah itu. Lha sudah buru-buru, bercampur ngantuk, belum ada kejelasan, eh kok ada yang mau menumpang. Meskipun demikian, di dalam mobil kami sempat  bercanda dengan membandingkan itu seperti Imam Lewi yang meninggalkan seorang Samaria yang tergeletak.
Akhirnya, tepat pukul 06.30 WIB rombongan sampai di Gereja Kristen Jawa Japah, melegakan rasanya. Dari jalan tampak kursi-kursi dan perlengkapan lainnya tertata rapi, menampakkan kesiapan untuk acara penahbisan. Kami disambut oleh seorang bapak, mungkin seorang panitia, dan dibawa ke tempat transit pendeta.
Singkat cerita, kami mengikuti acara penahbisan sampai berakhirnya ibadah penahbisan kira-kira jam duabelasan. Meskipun dipersilakan untuk mengikuti acara resepsi, tetapi kami memutuskan untuk mengabaikannya karena sebagian rombongan harus mengikuti satu acara di Wisma Sinode, Salatiga. Kami meninggalkan GKJ Japah pada siang hari yang terik.
Carry hijau mengangkut rombongan lagi, kebetulan ditambah seorang teman dari Sragen yang nunut, meneruskan perjalanan ke Wisma Sinode Salatiga. Dari daerah Japah kembali ke arah Purwodadi sekitar dua jam perjalanan. Karena belum makan siang, kami bersepakat untuk mencari warung makan di Purwodadi. Yah, harus menunggu dua jam untuk sampai di ‘te-ka-pe’ Rumah Makan Swekee, dengan menu utama swekke kuah dan kerupuk kulit kodok. Perut yang keroncongan sudah terjinakkan, rasa haus terpuaskan, rasa lelah pun juga agak terpulihkan. Setelah glageken, kami meneruskan perjalanan ke Salatiga. Ada dua pilihan jalan ke arah Salatiga, mau lewat Gumolong atau jalan alternative Semarang. Setelah beberapa pertimbangan yang kami terima, diputuskan lewat jalan alternative Semarang. Memang semula jalannya bagus, tetapi ternyata jalan selanjutnya juga rusak agak parah. Mirip dengan antrian mengisi bensin di pom, kami terpaksa mengantri dengan durasi sekitar 15 menitan dihampir setiap setengah jalan yang dicor. Ya, apa boleh buat perjalanannya menjadi tersendat.   
Memasuki daerah Kedung Jati, kami merasakan seperti lolos dari macan tetapi harus menghadapi singa, lolos dari seringnya antrian karena jalan sedang dicor, kami harus menghadapi tantangan baru yaitu jalan yang mleyot-mleyot, bergelombang, di kanan kiri didominasi pohon-pohon jati, juga beberapa jurang. Jalannya rusak dan sepi kendaraan. Meskipun demikian, hampir semua penumpang tertidur, mungkin terlalu loyo sehingga guncangan-guncangan tidak dirasakan.
Sementara alunan lagu-lagu lama masih mengalun, menambah suasana semakin kondusif untuk tidur, tiba-tiba, “Aaaaaaaaa.aa.a..!!!!” jeritan kami memecah suasana, seperti mimpi, mobil oleng, kemudian dalam hitungan detik keluar jalur, selanjutnya meluncur ke tegalan dan terbalik. Kami menjerit, karena semua terbalik. Di tengah suara rintihan kami berusaha ke luar, ada juga yang sempat memecah kaca samping untuk ke luar dari mobil. Rasa terkejut,  bingung, dan kesakitan bercampur aduk dalam diri kami, ya mobil terperosok sedalam kurang lebih satu setengah meter, dan terbalik. Tak terbayangkan sebelumnya dalam hitungan detik kami semua terbalik, keempat rodanya ada di atas dengan mesin yang masih menderu. Pak Sunar dengan susah payah juga keluar, menggapai kunci mematikan mesinnya.
Kami semua keluar dari mobil dan mengecek kondisi badan, ternyata lengan tangan bu Vica Yusak tidak bisa digerakkan, kemungkinan patah. Selanjutnya, dalam hitungan menit beberapa orang yang kebetulan lewat berhenti kemudian menolong. Ada yang segera mengeluarkan tas-tas dari dalam mobil, ada yang mengatur kendaraan yang lewat, ada juga yang menawarkan mobilnya untuk mengangkut yang sakit,  ada juga yang hanya nerocos menanyakan kepada kami penyebab kecelakaan dan menganalisis kenapa semua ini terjadi. Dalam sekejap, carry yang terbalik bisa dibalik dan di kembalikan lagi ke jalan oleh warga masyarakat sekitar. Teman-teman pendeta yang kami kontak, khususnya Pdt. Yehuda pun kemudian menjemput kami dengan mobil menuju ke Wisma Sinode untuk beristirahat, sedangkan bu Vica Yusak setelah sempat dirawat di RS Daerah Salatiga segera dilarikan ke RS Kustati di Solo. Singkat cerita, kami banyak ditolong oleh warga masyarakat dan juga teman-teman sehingga semua bisa tertangani dengan baik.
Nah, setelah kejadian itu, ada hal-hal yang kami renungkan. Apa ya, yang menyebabkan kecelakaan itu? Kemungkinan jalan yang meleyot-meleyot, kelebihan beban penumpang, sopirnya ngantuk, atau barangkali faktor mistis karena ada yang mengatakan saat kejadian itu Malem Jemuwah Kliwon. Kami rasa itu wajar terpikirkan. Namun bukan faktor penyebab kecelakaan itu yang menyeruak dalam pikiran kami (khususnya aku), namun yang mendalam terpikirkan adalah betapa besarnya pertolongan dari warga masyarakat, teman-teman pendeta, juga warga gereja yang begitu cepat, begitu mengesankan. Pertolongan itu nyata, diberikan oleh saudara-saudara yang sebelumnya tidak kami kenal, dari teman-teman yang sedang banyak kesibukan, hal inilah yang membuat kami mampu menghadapi kejadian yang mengagetkan seperti itu.
Pertolongan yang kami terima, membuat kami (khususnya aku) teringat kembali kepada nenek yang membutuhkan tumpangan di tengah bulak waktu kami bertanya arah jalan kepadanya. Betapa menyesalnya kami yang tidak berusaha menolongnya hanya karena tidak jelas apa yang ia katakan, juga rasa enggan bercampur kantuk. Betapa kasih semestinya diwujudkan dalam situasi apapun, entah ngantuk atau tidak, juga diberikan bagi siapapun, termasuk kepada seorang nenek. Sungguh menyegarkan saat Tuhan Yesus menegaskan tentang kasih yang sungguh-sungguh kepada para murid-Nya, Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” Aku teringat tema mengasihi dengan bersungguh-sungguh menjadi tema khotbah ibadah minggu dua hari setelah kejadian, yaitu pada Minggu, 13 Mei 2012.
Dibalik carry terbalik ada makna indah betapa Roh Kudus menguatkan kami melalui pertolongan dari semua saudara, juga penegasan kasih semestinya diwujudkan dengan lebih sungguh-sungguh. Ya, lebih sungguh-sungguh meskipun ada dalam berbagai keterbatasan.

Berbagi Refleksi Kejadian Kecelakaan, Kamis 11 Mei 2012 di Kedung Jati, Kabupaten Semarang, oleh Pdt. Stefanus Iwan Listiyantoro, GKJ Sabda Adi Semanu.






 
ans!!