S
|
eingatku, kami meninggalkan Wonosari dengan carry warna
hijau tepat pukul setengah sebelas malam menuju Kecamatan Japah, Kabupaten
Blora, Jawa Tengah. Majelis Gereja Kristen Jawa Japah mengundang kami untuk
datang di acara penahbisan pendeta vicaris Sih Ell Mirmaningrum, dia teman lama
di Sekolah Tinggi Agama Kristen Marturia Yogyakarta. GKJ Japah terletak di
Kabupaten Blora, tepatnya jalan Japah-Todanan Km 1, Blora. Kami sengaja
berangkat pada rabu malam supaya sampai ke tujuan pagi sehingga masih cukup
waktu untuk mandi, sarapan, dan persiapan-persiapan yang lain mengikuti acara
itu.
Carry hijau yang memuat delapan
orang itu meluncur dari Wonosari ke arah Piyungan, sampai Prambanan, terus ke jurusan
Klaten. Pak Sunar, yang kebetulan Koster Gereja Kristen Jawa Paliyan, menyetir
kendaraan dengan kecepatan kira-kira 60-70 Km/jam membawa Pak Bagyo, Bu Lina
Bagyo, Pak Yusak, Bu Vica Yusak, Bu Ni Luh, Pak Kristiono, dan aku. Laju
kendaraan termasuk pelan, melewati kota Surakarta ke arah Solo, karena perjalanan
sengaja dibuat santai. Ya, perjalanannya santai.
Pukul satu pagi rasa lapar mulai menggelitik membuat kami
mampir di Rumah Makan Padang Murah Meriah
di jalan Solo arah Purwodadi. Tempat ini
satu-satunya harapan kami untuk mengisi perut, maklum yang lain sudah tutup
karena sudah dini hari. Menunya masih cukup komplit, ada ayam, rendang, ikan,
dan tentu saja daun singkong plus sambal.
Setelah menyantap makanan khas
padang yang agak kasinen itu, kami melanjutkan perjalanan. Dinginnya malam itu kami hangatkan
dengan ketawa-ketiwi, menyanyian lagu
Panbers “Gereja Tua” yang melankolis walaupun
syairnya banyak yang ‘dipelesetkan’. Perjalanannya sungguh mengasyikkan.
Kira-kira jam tiga pagi kami
memasuki daerah Purwodadi, mulai terasa jalan yang berlobang, selain itu juga banyak
jalan yang akan dicor.Tibalah kami di
daerah Blora kira-kira jam lima pagi. Kebingungan kami rasakan karena belum
pernah satu pun yang mengenal arah jalan Japah-Todanan Km 1 yang menjadi tujuan
kami. Ji-Pi-Es sebagai perangkat
penunjuk jalan juga mulai kurang terbaca. “Aku
siap takon lho!” celetukku, menawarkan diri jika harus turun dan menanyakan
jalan mana yang harus dilewati, karena kebetulan aku duduk di dekat pintu
belakang. “Ya, mengko..” suara
teman-teman hampir bersamaan.
Di tengah keraguan memilih jalan,
tepat di tengah bulak, kebetulan ada
seorang nenek yang membawa tas berada di pinggir jalan. “Wis takon wae!” suara yang menyarankanku untuk segera bertanya. Aku
turun dari mobil kemudian mendekati nenek itu. Belum sempat mengeluarkan suara,
nenek itu tiba-tiba beranjak mau naik ke mobil, mungkin dikira kami akan
memberi tumpangan. “Nuwun sewu mbah,
badhe nyuwun pirso, menapa menika leres arah dateng Japah, jalan Todanan ?”, tanyaku
antara bingung bercampur ngantuk. Simbah itu tanpa menjawab dan tetap
menunjukkan langkah mau menumpang. Kuulangi pertanyaan tadi dengan lebih keras,
barangkali bisa mempermudah nenek itu menangkap maksudku. Ternyata itu
membuatnya mengurungkan langkah, diam di tempat. “Pasar Japah…”, ungkapnya lirih sambil menatapku dengan tatapan
aneh. “Yee, gimana tho simbah ini…”, aku
menjadi agak sewot karena nenek ini tidak jelas. Mungkin sudah berkurang
pendengarannya atau barangkali tidak tahu daerah yang dimaksud. Karena tidak nyambung, aku spontan mengabaikannya,
kemudian memberi kode kepada Pak Sunar untuk meneruskan perjalanan,
meninggalkan simbah itu. Lha sudah buru-buru, bercampur ngantuk,
belum ada kejelasan, eh kok ada yang mau menumpang. Meskipun demikian, di dalam
mobil kami sempat bercanda dengan
membandingkan itu seperti Imam Lewi yang meninggalkan seorang Samaria yang
tergeletak.
Akhirnya, tepat pukul 06.30 WIB rombongan
sampai di Gereja Kristen Jawa Japah, melegakan rasanya. Dari jalan tampak
kursi-kursi dan perlengkapan lainnya tertata rapi, menampakkan kesiapan untuk
acara penahbisan. Kami disambut oleh seorang bapak, mungkin seorang panitia, dan
dibawa ke tempat transit pendeta.
Singkat cerita, kami mengikuti
acara penahbisan sampai berakhirnya ibadah penahbisan kira-kira jam duabelasan.
Meskipun dipersilakan untuk mengikuti acara resepsi, tetapi kami memutuskan
untuk mengabaikannya karena sebagian rombongan harus mengikuti satu acara di
Wisma Sinode, Salatiga. Kami meninggalkan GKJ Japah pada siang hari yang terik.
Carry hijau mengangkut rombongan lagi,
kebetulan ditambah seorang teman dari Sragen yang nunut, meneruskan perjalanan ke Wisma Sinode Salatiga. Dari daerah Japah
kembali ke arah Purwodadi sekitar dua jam perjalanan. Karena belum makan siang,
kami bersepakat untuk mencari warung makan di Purwodadi. Yah, harus menunggu
dua jam untuk sampai di ‘te-ka-pe’ Rumah
Makan Swekee, dengan menu utama swekke
kuah dan kerupuk kulit kodok. Perut
yang keroncongan sudah terjinakkan, rasa haus terpuaskan, rasa lelah pun juga
agak terpulihkan. Setelah glageken,
kami meneruskan perjalanan ke Salatiga. Ada dua pilihan jalan ke arah Salatiga,
mau lewat Gumolong atau jalan alternative Semarang. Setelah beberapa
pertimbangan yang kami terima, diputuskan lewat jalan alternative Semarang. Memang
semula jalannya bagus, tetapi ternyata jalan selanjutnya juga rusak agak parah.
Mirip dengan antrian mengisi bensin di pom, kami terpaksa mengantri dengan
durasi sekitar 15 menitan dihampir setiap setengah jalan yang dicor. Ya, apa
boleh buat perjalanannya menjadi tersendat.
Memasuki daerah Kedung Jati, kami
merasakan seperti lolos dari macan tetapi harus menghadapi singa, lolos dari
seringnya antrian karena jalan sedang dicor, kami harus menghadapi tantangan
baru yaitu jalan yang mleyot-mleyot, bergelombang,
di kanan kiri didominasi pohon-pohon jati, juga beberapa jurang. Jalannya rusak
dan sepi kendaraan. Meskipun demikian, hampir semua penumpang tertidur, mungkin
terlalu loyo sehingga
guncangan-guncangan tidak dirasakan.
Sementara alunan lagu-lagu lama
masih mengalun, menambah suasana semakin kondusif untuk tidur, tiba-tiba, “Aaaaaaaaa.aa.a..!!!!”
jeritan kami memecah suasana, seperti mimpi, mobil oleng, kemudian dalam
hitungan detik keluar jalur, selanjutnya meluncur ke tegalan dan terbalik. Kami
menjerit, karena semua terbalik. Di tengah suara rintihan kami berusaha ke
luar, ada juga yang sempat memecah kaca samping untuk ke luar dari mobil. Rasa
terkejut, bingung, dan kesakitan
bercampur aduk dalam diri kami, ya mobil terperosok sedalam kurang lebih satu
setengah meter, dan terbalik. Tak terbayangkan sebelumnya dalam hitungan detik
kami semua terbalik, keempat rodanya ada di atas dengan mesin yang masih
menderu. Pak Sunar dengan susah payah juga keluar, menggapai kunci mematikan
mesinnya.
Kami semua keluar dari mobil dan
mengecek kondisi badan, ternyata lengan tangan bu Vica Yusak tidak bisa
digerakkan, kemungkinan patah. Selanjutnya, dalam hitungan menit beberapa orang
yang kebetulan lewat berhenti kemudian menolong. Ada yang segera mengeluarkan
tas-tas dari dalam mobil, ada yang mengatur kendaraan yang lewat, ada juga yang
menawarkan mobilnya untuk mengangkut yang sakit, ada juga yang hanya nerocos menanyakan kepada kami penyebab kecelakaan dan menganalisis
kenapa semua ini terjadi. Dalam sekejap, carry yang terbalik bisa dibalik dan di
kembalikan lagi ke jalan oleh warga masyarakat sekitar. Teman-teman pendeta yang
kami kontak, khususnya Pdt. Yehuda pun kemudian menjemput kami dengan mobil
menuju ke Wisma Sinode untuk beristirahat, sedangkan bu Vica Yusak setelah
sempat dirawat di RS Daerah Salatiga segera dilarikan ke RS Kustati di Solo. Singkat
cerita, kami banyak ditolong oleh warga masyarakat dan juga teman-teman
sehingga semua bisa tertangani dengan baik.
Nah, setelah kejadian itu, ada
hal-hal yang kami renungkan. Apa ya, yang menyebabkan kecelakaan itu? Kemungkinan
jalan yang meleyot-meleyot, kelebihan
beban penumpang, sopirnya ngantuk, atau barangkali faktor mistis karena ada
yang mengatakan saat kejadian itu Malem
Jemuwah Kliwon. Kami rasa itu wajar terpikirkan. Namun bukan faktor
penyebab kecelakaan itu yang menyeruak dalam pikiran kami (khususnya aku),
namun yang mendalam terpikirkan adalah betapa besarnya pertolongan dari warga
masyarakat, teman-teman pendeta, juga warga gereja yang begitu cepat, begitu
mengesankan. Pertolongan itu nyata, diberikan oleh saudara-saudara yang sebelumnya
tidak kami kenal, dari teman-teman yang sedang banyak kesibukan, hal inilah yang
membuat kami mampu menghadapi kejadian yang mengagetkan seperti itu.
Pertolongan yang kami terima, membuat
kami (khususnya aku) teringat kembali kepada nenek yang membutuhkan tumpangan
di tengah bulak waktu kami bertanya
arah jalan kepadanya. Betapa menyesalnya kami yang tidak berusaha menolongnya hanya
karena
tidak jelas apa yang ia katakan, juga rasa enggan bercampur kantuk. Betapa
kasih semestinya diwujudkan dalam situasi apapun, entah ngantuk atau tidak, juga
diberikan bagi siapapun, termasuk kepada seorang nenek. Sungguh menyegarkan
saat Tuhan Yesus menegaskan tentang kasih yang sungguh-sungguh kepada para
murid-Nya, “Inilah
perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi
kamu.” Aku teringat tema mengasihi dengan
bersungguh-sungguh menjadi tema khotbah ibadah minggu dua hari setelah
kejadian, yaitu pada Minggu, 13 Mei 2012.
Dibalik carry terbalik ada makna
indah betapa Roh Kudus menguatkan kami melalui pertolongan dari semua saudara,
juga penegasan kasih semestinya diwujudkan dengan lebih sungguh-sungguh. Ya,
lebih sungguh-sungguh meskipun ada dalam berbagai keterbatasan.
Berbagi Refleksi Kejadian
Kecelakaan, Kamis 11 Mei 2012 di Kedung Jati, Kabupaten Semarang, oleh Pdt.
Stefanus Iwan Listiyantoro, GKJ Sabda Adi Semanu.
