“Nak, aku berangkat ke pasar Munggi dulu ya, nanti kamu
menyusul!”demikian kata seorang ibu kepada anaknya. Anaknya disuruh mengikutinya
atau disuruh datang kemudian ke salah satu pasar di Semanu, yaitu ke pasar
Munggi. Yang diharapkan ibu, anaknya akan sampai ke tempatnya berada.
Pada saat itu, Tuhan Yesus menggambarkan bahwa Ia akan
meninggalkan murid-murid. Petrus kebingungan
dan ingin tetap mengikutiNya, kemudian ia segera menanyakan perihal kemana Ia
pergi. Dalam Yohanes 13:36 Simon Petrus berkata kepada Yesus: “Tuhan, kemanakah
Engkau pergi?” Jawab Yesus: “Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti
Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku.” Ternyata yang
disampaikan Tuhan Yesus kepada muridNya ini adalah nubuat bahwa mereka nanti
akan menyusul Tuhan. Yang diharapkan oleh Tuhan Yesus kepada Petrus adalah
datang kemudian ke tempat Tuhan berada, dan pada saatnya nanti sampai di rumah
Bapa “yang ada banyak tempat tinggal”(14:2).
Jika kepergian Tuhan karena menyediakan tempat yang indah untuk
murid-muridNya saat itu, Iapun menyediakan bagi kita. Ia menantikan kita untuk
bisa sampai ke tempat-Nya berada. Ia menunggu anak-anakNya, pada saatnya nanti
sampai ke pangkuanNya. Ia sendiri adalah jalan untuk sampai ke Bapa, bahkan Ia
berjanji untuk datang kembali dan menjemput kita. Menjadi hal yang menakutkan? Semoga
tidak, melainkan menjadi kerinduan dan harapan setiap anak-anakNya agar selalu
mengutamakan tujuan hidup sejati. Siapa menyusul?