Perjalanan 3 – 4 Km ditempuh beberapa siswa di daerah perbukitan yang berbatasan dengan wilayah Klaten, tepatnya di kecamatan Gedangsari. Tanpa keluh kesah, mereka menuju ke sekolah. Mereka melangkah tanpa angkutan ataupun kendaraan pribadi, hanya beralaskan sepatu. Bahkan, jika ingin datang tepat waktu sebelum pelajaran dimulai jam 7.00 WIB, mereka harus berangkat dari rumah pukul 5.30 WIB. Semua dilakukannya untuk satu tujuan yaitu mengenyam pendidikan.
Saya berdecak kagum untuk perjuangan mereka. Itupun juga yang pasti akan muncul jika kita mengingat perjalanan sulit yang ditempuh oleh Tuhan Yesus. Bahkan, di saat–saat terakhir sebelum naik ke sorga, para murid lagi–lagi meninggalkan dan hendak melupakan Dia, dan kembali menjadi nelayan. Yesus, tanpa gerutuan, kemarahan, walaupun jalan yang ditempuh sulit, dengan keikhlasan berjalan menuju tempat di mana Ia ingin mewujudkan tujuan-Nya dan para murid tetap dipersiapkan untuk diutus menjadi saksi-Nya.
Selang beribu tahun kemudian, kitalah yang menjadi salah satu bagian dari dampak kesaksian para murid. Yesus yang menjadi penyelamat dan oleh-Nya kita akan mewarisi kerajaan Allah adalah inti dari gema kesaksian para murid yang tidak pernah padam dimakan oleh waktu. Salah satu gema itu berasal dari Rasul Paulus, yang bersurat kepada jemaat di Korintus, ”Tetapi karena kasih karunia Allah aku ( Paulus ) adalah sebagaimana aku ada sekarang (yang dahulu penganiaya jemaat Allah) dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia–sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. Sebab itu, baik aku, maupun mereka (para murid), demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu (kita semuanya) menjadi percaya ” ( 1 Korintus 15 : 10 – 11 ).
Itulah arti perjuangan yang tak kenal lelah yang dilakukan oleh Yesus, yang terbungkus rapih oleh Kasih karunia semata. Puji nama-Nya !! (HI)