Stefanus Iwan Listiyantoro: Renungan Metal Set - Link Select
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

6.30.2012

TUHAN YANG MENJADIKAN

Markus 1: 16-18  Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia."  Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.
U
ntuk menjadi murid di sekolah kita harus mendatangi sekolahan dan mendaftar atau melamar. Biasanya di-test dahulu, kemudian dinyatakan diterima, bisa pula ditolak karena yang menentukan adalah pihak sekolah. Tetapi, untuk menjadi murid Tuhan kita tidak perlu melamar. Kita tinggal menentukan mau atau tidak. Tuhan yang menawari, mengajak, mengundang untuk berjalan di belakang-Nya.
Penulis Kitab Injil mencantumkan kisah pemanggilan Simon dan Andreas oleh Tuhan Yesus. Mereka adalah nelayan. Hidupnya sederhana dan termasuk golongan masyarakat bawah. Tuhan mengajak mereka untuk mengikut-Nya, menjadikan mereka penjala manusia. Simon dan Andreas menerima undangan itu. Meskipun mereka ‘hanya’ tukang mencari ikan, yang berpendidikan rendah, bahkan mungkin tidak berpendidikan, mereka mau berjalan di belakang-Nya.
Jaman sekarang pun, kita menjadi murid-murid-Nya bukan melamar atau mendaftar. Tuhanlah yang memanggil. Kita mau mengikut-Nya, menjadi penjala manusia. Sekali lagi dijadikan penjala manusia. Berarti Tuhan yang akan memberi kesanggupan kita dapat “menangkap” orang untuk Kerajaan Allah. Artinya, terus mewartakan Kabar Sukacita Kerajaan Allah. Maka, jangan merasa rendah, bodoh, atau tidak mampu, karena Tuhan yang akan menjadikan.

6.09.2012

TAK KENAL LELAH

Perjalanan 3 – 4 Km ditempuh beberapa  siswa di daerah perbukitan yang berbatasan dengan wilayah Klaten, tepatnya di kecamatan Gedangsari. Tanpa keluh kesah, mereka menuju ke sekolah. Mereka melangkah tanpa angkutan ataupun kendaraan pribadi, hanya beralaskan sepatu. Bahkan, jika ingin datang tepat waktu sebelum pelajaran dimulai jam 7.00 WIB, mereka  harus berangkat dari rumah pukul 5.30 WIB. Semua dilakukannya untuk satu tujuan yaitu mengenyam pendidikan.
Saya berdecak kagum untuk perjuangan mereka. Itupun juga yang pasti akan muncul jika kita mengingat perjalanan sulit yang ditempuh oleh Tuhan Yesus. Bahkan, di saat–saat terakhir sebelum naik ke sorga, para murid lagi–lagi meninggalkan dan hendak melupakan Dia, dan kembali menjadi nelayan. Yesus, tanpa gerutuan, kemarahan, walaupun jalan yang ditempuh sulit, dengan keikhlasan berjalan menuju tempat di mana Ia ingin mewujudkan tujuan-Nya dan para murid tetap dipersiapkan untuk diutus menjadi saksi-Nya.
Selang beribu tahun kemudian, kitalah yang menjadi salah satu bagian dari dampak kesaksian para murid. Yesus yang menjadi penyelamat dan oleh-Nya kita akan mewarisi kerajaan Allah adalah inti dari gema kesaksian para murid yang tidak pernah padam dimakan oleh waktu. Salah satu gema itu berasal dari Rasul Paulus, yang bersurat kepada jemaat di Korintus, ”Tetapi karena kasih karunia Allah aku ( Paulus ) adalah sebagaimana aku ada sekarang (yang dahulu penganiaya jemaat Allah) dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia–sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua;  tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.  Sebab itu, baik aku, maupun mereka (para murid), demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu (kita semuanya) menjadi percaya ” ( 1 Korintus 15 : 10 – 11 ).
Itulah arti perjuangan yang tak kenal lelah yang dilakukan oleh Yesus, yang  terbungkus rapih oleh Kasih karunia semata. Puji nama-Nya !!    (HI)

6.07.2012

Siapa Menyusul?


“Nak, aku berangkat ke pasar Munggi dulu ya, nanti kamu menyusul!”demikian kata seorang ibu kepada anaknya. Anaknya disuruh mengikutinya atau disuruh datang kemudian ke salah satu pasar di Semanu, yaitu ke pasar Munggi. Yang diharapkan ibu, anaknya akan sampai ke tempatnya berada.

Pada saat itu, Tuhan Yesus menggambarkan bahwa Ia akan meninggalkan murid-murid.  Petrus kebingungan dan ingin tetap mengikutiNya, kemudian ia segera menanyakan perihal kemana Ia pergi. Dalam Yohanes 13:36 Simon Petrus berkata kepada Yesus: “Tuhan, kemanakah Engkau pergi?” Jawab Yesus: “Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku.” Ternyata yang disampaikan Tuhan Yesus kepada muridNya ini adalah nubuat bahwa mereka nanti akan menyusul Tuhan. Yang diharapkan oleh Tuhan Yesus kepada Petrus adalah datang kemudian ke tempat Tuhan berada, dan pada saatnya nanti sampai di rumah Bapa “yang ada banyak tempat tinggal”(14:2).

Jika kepergian Tuhan karena menyediakan tempat yang indah untuk murid-muridNya saat itu, Iapun menyediakan bagi kita. Ia menantikan kita untuk bisa sampai ke tempat-Nya berada. Ia menunggu anak-anakNya, pada saatnya nanti sampai ke pangkuanNya. Ia sendiri adalah jalan untuk sampai ke Bapa, bahkan Ia berjanji untuk datang kembali dan menjemput kita. Menjadi hal yang menakutkan? Semoga tidak, melainkan menjadi kerinduan dan harapan setiap anak-anakNya agar selalu mengutamakan tujuan hidup sejati. Siapa menyusul?
 
ans!!