Tak
gendong kemana-mana… mantep dong, enak dong.
Daripada naik pesawat kedinginan, mendingan tak gendong, ayooooooo!
Tak gendong
kemana-mana… mantep dong, enak dong
Dari
pada naik taksi kesasar, mendingan tak gendong!
Were are
you going, oke I am hoking..
Lirik
lagu di atas berjudul “Tak Gendong Kemana-mana” dinyanyikan oleh almarhum Mbah Surip.
Menggambarkan kasih seseorang kepada orang yang disayangi, yang diwujudkan
dengan mendukung di belakang (di pinggang). Jika dibandingkan naik pesawat
ataupun taksi, digendong akan lebih mantap dan enak.
Begitu
pula, Allah akan menggendong umatNya. Waktu itu, umat Tuhan
mengalami keputusasaan karena mengalami pembuangan di Babel. Dalam keadaan kesesakan itu mereka
mulai ragu akan kasih Tuhan, seakan-akan Allah telah meninggalkan mereka.
Tetapi melalui nabi Yesaya, Allah memberi peneguhan tentang harapan kelepasan
kepada umat. Mereka pasti ditolong dan dibebaskan. “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku
menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau
memikul kamu dan menyelamatkan kamu” (Yesaya 46:4). Demikian firmanNya. Oleh
karena itu, mereka harus mengandalkan Tuhan yang setia pada pilihan-Nya.
Sering dalam menjalani hidup, kita juga merasakan
kesesakan, menanggung beban, menghadapi berbagai persoalan berat. Entah itu
dalam kehidupan berkeluarga, kesehatan, pendidikan, pergaulan, pasangan hidup,
dan lain-lain. Siapa yang kita andalkan? Diri kita sendiri? Orang lain? Tentu
saja mengandalkan Tuhan yang setia pada umatNya. Sebab Ia
akan mendukung kita dan memberi kelepasan dengan lebih mantap dan enak. Tak
gendong! SIL.