J
|
ika ada yang menanyakan, “Siapa yang mengenalkan dan mendorong kamu berpelayanan?” saya akan menjawab, “Ibu!” Bagi saya, beliau adalah teladan nyata dalam belajar melayani.
Ibu saya bernama Falentina Wartinah. Pada tanggal 18 Oktober 1977, beliau melahirkan dan memberi nama diri saya: Stefanus Iwan Listiyantoro. Bapak bernama Samuel Surabiyo, dahulu seorang pengajar seni rupa di sekolah menengah pertama. Saya anak kelima dari enam bersaudara, semuanya perempuan: mbak Lis, mbak Tatik, mbak Anik, mbak Ndari, dik Desi. Kami menempati rumah kecil di kampung Nopaten, desa Gilangharjo, kecamatan Pandak, kabupaten Bantul, kira-kira 15 km arah selatan kota “Gudeg”.
Waktu kecil, hampir setiap Minggu ibu memboncengkan saya dengan sepeda onthel-nya menuju ke gereja GKJ Bantul pepanthan Jodhog. Saya senang mendengar cerita Alkitab di Sekolah Minggu bersama teman-teman. Salah satu guru sekolah minggunya adalah ibu saya sendiri. Waktu itu beliau masih aktif sebagai guru taman kanak-kanak. Nah, beliaulah yang awalnya mengenalkan dan mendorong saya untuk belajar tentang kasih sayang Allah yang luar biasa.
Seperti umumnya anak yang harus membawa bekal ilmu untuk masa depan, di tahun 1981 saya mulai memasuki dunia pendidikan. Dua tahun belajar di Taman Kanak-kanak Bina Putra, kemudian enam tahun belajar di Sekolah Dasar Negeri Bantulan II. Selama delapan tahun itu saya bersekolah dengan berjalan kaki. Setelah lulus sekolah dasar, saya ngonthel melanjutkan ke sekolah yang jaraknya 5 Km dari rumah, yaitu di Sekolah Menengah Pertama (SMP) I Bantul dan lulus tahun 1992. Keinginan untuk cepat bekerja dan minat di bidang elektonika membawa saya belajar di jurusan Elektronika Komunikasi Sekolah Teknologi Menengah (STM) II Yogyakarta dan membawa pulang ijazah di tahun 1995.
Berbekal ijazah itu, hasrat untuk merantau ke Jakarta pun terlaksana. Setelah mencari lowongan dan mengikuti test kerja, di bulan November 1995 saya mendapatkan tempat menerapkan ilmu di sebuah perusahaan otomotif PT. Wahana Eka Paramitra (Astra Component Group). Saya menjadi operator maintenance, tugasnya merawat mesin-mesin yang bisa bergerak-gerak mirip manusia. Nah, sayapun mulai merasakan ritme hidup seperti robot: kerja pagi, siang, sore, dan malam.
Bulan Juli tahun 1998, saya memilih untuk mudik dan melanjutkan belajar menjadi pelayan Tuhan. Saya pulang kampung. Seorang teman gereja yang bernama Melati (mbak Mel) yang mengajak saya kembali belajar menekuni pelayanan di gereja, khususnya untuk mengajar anak-anak sekolah minggu dan remaja-pemuda. Kegiatan pelayanan di gereja lokal dan aras klasis itulah yang menguatkan saya untuk menyelami pelayanan dengan belajar teologi. Tahun 1999 saya belajar di jurusan teologi Sekolah Tinggi Agama Kristen Marturia, Yogyakarta. Terus terang pada awalnya saya bangga menyandang gelar “Sarjana Teologi” di akhir tahun 2004, bahkan lebih bangga karena kemudian dipercaya menjadi majelis gereja di GKJ Jodhog. Namun, kebanggaan itu terhimpit oleh rasa isin karena ternyata banyak hal yang masih perlu saya pelajari (lha wong bahasa jawa saja masih plegak-pleguk kok...). Saya menyadari bahwa yang terpenting adalah terus mengasah, memperlengkapi diri menjadi pelayan dan mengerjakan apa yang bisa dikerjakan.
Setelah gempa Bantul 27 Mei 2006, di tengah proses pemulihan kerusakan fisik dan psikis akibat gempa, GKJ Wiladeg (Klasis Gunung Kidul) memanggil untuk proses kependetaan. Saya mengikuti proses tersebut dengan suka cita dan memaknainya sebagai panggilan sekaligus pemberian kesempatan dari Tuhan untuk bangkit dan terus belajar menjadi pelayan-Nya. Setelah mengikuti orientasi selama tiga bulan, lalu diadakan pemilihan, ternyata seorang temanlah yang terpilih. Setelah itu saya mengikuti proses perkenalan di beberapa gereja GKJ. Pertengahan tahun 2007 saya masuk tahapan orientasi di GKJ Wonosari (Klasis Gunung Kidul). Dalam pemilihan ternyata kembali seorang temanlah yang terpilih, dan kembali juga saya memperpanjang masa penantian “jodoh” saya. RencanaNya yang indah tak bisa saya tebak alurnya. Ada beberapa gereja GKJ yang memanggil saya untuk berproses lagi, dan komitmen saya untuk menjawab “ya”gereja yang memanggil terlebih dahulu. Saya sungguh deg-degan karena di akhir tahun 2007 Dia membawa saya kembali ke tempat yang “tinggi” yaitu di GKJ Sabda Adi Semanu (Klasis Gunung Kidul).
Saya terus melanjutkan proses belajar: mengikuti pembimbingan, ujian peremtoir, masa vikariat, dan pada 22 Oktober 2009 ditahbiskan. Setelah ditahbiskan menjadi pelayan khusus dengan tugas khusus mengajar (pamulang), saya berniat untuk tetap belajar di manapun dan kapanpun. Ingin terus mengobarkan nyala api pemberian Tuhan yang dinyalakan ibu dalam jiwa saya. “Terima kasih ibu!”
Soli Deo Gloria!


